Tampilkan postingan dengan label kepemimpinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kepemimpinan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Oktober 2009

Memimpin dengan Teladan

Pada suatu ketika, Konfusius, menempuh perjalanan jauh bersama beberapa muridnya melintasi padang gurun. Setelah beberapa hari, persediaan air minum yang mereka bawa habis. Ketika salah seorang muridnya menemukan suatu oase kecil yang berisi genangan air dangkal. Dengan segera murid tersebut mengambil mangkuknya kemudian dengan susah payah menyedok sebanyak mungkin air. Tetapi yang terisi hanya setengah dari isi mangkuk. Ia pun mengantarkan air itu kepada Konfusius.

Ketika Konfusius baru menempelkan mangkuk itu ke bibirnya, ia melihat semua mata muridnya memandang kepada dirinya. Ia tidak jadi meminum isi mangkok tersebut, malahan ia menuang air dalam mangkuk tersebut ke atas pasir gurun tersebut sambil berkata,"Air ini terlalu sedikit untuk kita semua dan terlalu banyak untuk satu orang saja. Mari kita lanjutkan perjalanan ini."

Champion
-Darmadi Darmawangsa-


The Lesson

Sebagai seorang pemimpin, Konfusius tidak mampu meminum air itu sendirian dan membiarkan muridnya sengsara. Ia tidak merasa lebih penting drpd murid2nya. Inilah contoh seorang pemimpin sejati. Konfusius memang tidak bisa menghilangkan dahaga dirinya dan para muridnya tetapi ia memberikan sesuatu yang lebih penting dan berarti kepada para muridnya dan kita sekalian, yaitu arti dari sebuah kepemimpinan sejati

Selasa, 13 Oktober 2009

Seni Rekomendasi

Penguasa Jin, Raja Ping, beraudiensi dengan salah satu menterinya, Qi Huanyang. Raja Ping bertanya kepada dirinya siapa yang paling tepat untuk wakil pemerintahan di Nanyang.

"Xie Hu mungkin orang yang cocok untuk posisi ini," jawab Qi menanggapi pertanyaan raja.

"Tetapi bukankah Xie Hu adalah lawan politik anda?" tanya Raja.

"Yang Mulia bertanya kepada saya siapa yang layak menjadi calon terbaik untuk memerintah Nanyang," jawab Qi dengan tersenyum. "Anda tidak bertanya kepada saya, siapa lawan politik saya."

Raja mengangguk tanda setuju,"Baiklah, saya akan mengangkat Xie Hu untuk memerintah di Nanyang."

Xie Hu memerintah Nanyang dengan baik.

Beberapa saat kemudian raja bertanya kepada Qi Huangyang untuk merekomendasikan calon hakim yang terbaik untuk pengadilan.

"Qi Yu adalah orang yang tepat untuk mengisi posisi hakim." jawab Qi Huangyang.

"Bukankah Qi Yu adalah anakmu?" tanya raja. "Mengapa engkau merekomendasikan anakmu sendiri? Orang-orang akan mencibir saya jika saya sampai mengangkat anakmu."

"Yang Mulia, anda bertanya kepada saya siapa calon terbaik untuk mengisi posisi hakim di negeri ini. Anda tidak bertanya kepada saya apakah dia anak saya."

"Kamu benar." jawab raja.

Qi Yu pun ditunjuk menjadi hakim negeri. Dia berhasil memepimpin pengadilan negara dengan baik dan selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Di masanya, keadilan hukum benar-benar ditegakkan.


The Lesson

Sungguh memalukan, bahwa di tengah semakin berkembangnya seni kepemimpinan di negara ini tetapi tidak serta merta menjadikan sistem semakin baik.

Qi Huangyang mendemonstrasikan seni merekomendasikan orang dengan baik dan tepat tanpa berprasangka apa-apa. Ia tidak pernah takut dicap nepotisme ketika merekomendasikan anaknya (karena dia tahu anaknya adalah orang yang tepat) atau memisahkan kepentingan pribadi dengan urusan negara ketika merekomendasikan Xie Hu yang merupakan seteru politiknya. Semuanya hanya demi keutuhan dan kemakmuran negaranya.

Bagaimana dengan kita ?

Senin, 12 Oktober 2009

Etika Pasukan



Pada tahun 158 SM, bangsa Hun menguasai perbatasan utara China. Untuk memperkuat perbatasan, Kaisar dinasti Han, Wen, menugaskan tiga orang jenderalnya, Xu Li, Liu Li dan Zhou Yafu, untuk menjaga tiga pos di wilayah perbatasan utara.

Suatu ketika Kaisar ingin melakukan kunjungan ke pos-pos tersebut. Rombongan kaisar dapat secara langsung menuju barak Jenderal Liu Li dan Xu Li. Mereka dan pasukannya keluar menyambut Kaisar.

Ketika rombongan kaisar bergerak menuju pos yang dijaga oleh Zhou Yafu, rombongan tersebut diberhentikan oleh beberapa prajurit. Pengawal kaisar meberitahukan bahwa ini adalah rombongan kaisar yang ingin melakukan kunjungan. Tetapi prajurit yang menghadang tersebut menjawab,"Jenderal Zhou berkata bahwa kami hanya tunduk pada perintah beliau."

Akhirnya kaisar mengirimkan utusannya membawa pesan sekaligus cap kerajaan untuk memberitahukan bahwa kaisar datang untuk bertemu dengan Zhou Yafu. Zhou Yafu yang menerima pesan ini segera memerintahkan supaya gerbang dibuka.

Ketika rombongan kaisar masuk ke dalam markas, mereka diperingati kembali oleh pengawal yang bertugas untuk tidak memacu kuda2 mereka dengan cepat. Rombongan kaisar pun berjalan perlahan-lahan menuju tempat Jenderal Zhou. Sesampainya di sana, Zhou sudah menunggu. Ia hanya membungkuk sedikit di hadapan kaisar.

"Maafkan saya yang Mulia karena saya tidak berlutut," jawab Zhou. "Seorang prajurit yang sedang bertugas dan mengenakan seragam militer menghormat sesuai dengan peraturan menurut etika militer."

Melihat hal ini, Kaisar Wen sangan terkesan. Ia berdiri dan membungkuk hormat sesuai etika militer yang berlaku. Ketika selesai melakukan kunjungan, Kaisar kembali mengirimkan utusan kepada Zhou untuk mengucapkan terima kasih atas kebaikannya, kemudian mereka berangkat kembali menuju ibukota.

Dalam perjalanan, para pejabat yang mendampingi kaisar bertanya-tanya bagaimana Yang Mulia akan bereaksi terhadap perlakuan yang diterimanya selama berada di markas Zhou Yafu.

Kaisar yang mendengar hal ini berkata,"Zhou Yafu adalah jenderal sejati. Dua jenderal lainnya menjaga markas mereka seperti permainan anak kecil. Tidak ada kedisiplinan dan prosedur yang jelas. Apabila musuh datang secara tiba-tiba, dapat dipastikan mereka akan kalah. Tetapi dengan Zhou Yafu, kalian semua tidak akan mendapatkan kesempatan."

Kaisar terus memuji Zhou sepanjang perjalanan pulang. Tidak lama kemudian, kaisar mengangkat Zhou Yafu sebagai komandan untuk pertahanan ibukota.


The Lesson

Jika anda membelokkan peraturan untuk menyenangkan orang lain, anda akan kehilangan lebih banyak orang daripada yang anda dapatkan.

Mengenai Zhou Yafu sendiri, kisah hidupnya sangat terkenal di China. Ia adalah perwakilan dari karakter seorang jenderal yang dikagumi karena keahliannya dalam merancang strategi dan sikap disiplinnya yang tinggi. Ia pun dikenal sebagai seorang yang jujur dan berintegritas.